Thn 1960-an

Trauma PERMESTA dan G 30 S menjadikan warga Minahasa di rantau saling curiga dan terkotak-kotak akibat perseteruan yang berangkat dari kedua peristiwa hitam yang melanda negeri ini, bahkan sampai saat ini kita bisa melihat kebiasaan orang Minahasa jika ditanya berasal dari mana, maka jawaban yang keluar SAYA ORANG MANADO. Ini karena warisan sejarah masa silam yang membuat warga Kawanua salah kaprah dalam pengakuan identitas, sebab Manado belum tentu Minahasa, tapi Minahasa sudah pasti mencakup Manado.

Keinginan untuk memiliki suatu perkumpulan yang berasal dari Minahasa sangat diidam-idamkan oleh warga yang tinggal di Jakarta dan itu terjadi dengan lahirnya beberapa organisasi/perkumpulan yang berlatar belakang kampung (Roong) dan Fam (Taranak).

Di Tahun 1966 ada perayaan Corps Piere Tendean yang baru berusia setahun akibat korbn dari G 30 S PKI, maka ada terjadi beberapa pertemuan di rumah Comodor (L) Frits Suak (asal Amurang) di Jl. Raden Saleh I No.1, juga dihadiri oleh beberapa pemuda termasuk Mayor AD Daan Mogot (Pejuang Kemerdekaan), dalam pembicaraan-pembicaraan sudah direncanakan untuk membentuk suatu perkumpulan untuk mewadahi semua orang Minahasa yang ada di Jakarta.

Hans E. Kawulusan diangkat menjadi Kepala Biro I (Penelitian dan Analisis) di Kantor Departemen Perhubungan yang letaknya tidak jauh dari kantor saudara Jan Walandouw Direktur Utama Perusahan Pelayaran Sarunta Waya. Seperti diketahui saudara Jan Walandouw adalah ex Permesta yang menjadi penghubung antara pihak Malaysia dan Pa' Harto. Kami banyak berdiskusi tentang keadaan Kawanua yang begitu tertekan, dan timbul gagasan untuk membangkitkan kembali nyali orang Kawanua dengan mengadakan suatu acara yang diberi nama “Semalam Suntuk Di Danau Tondano” bertempat di Istora Senayan.
Semua orang Kawanua di sekitar JaBoDeTaBek diundang untuk hadir dengan mempergunakan angkutan bus umum dan bus KKO dikirim oleh panitia untuk menjemput dan memulangkan semua perserta.

Setelah acara “Semalam Suntuk di Danau Tondano”, di tahun 1969 panitia mendiskusikan untuk mendirikan suatu organisasi yang diberi nama ‘Pinasungkulan ne Toulour’ karena yang menjadi penggerak acara ini adalah orang-orang yang berasal daerah sekeliling danau Tondano. Ada beberapa tokoh yang berasal dari 2 atau lebih pakasaan seperti L.N. Palar yang menyarankan agar jangan hanya dari Toulour tetapi kalau bisa meliputi seluruh orang Minahasa. Panitia bersedia asal om Palar yang mengundang. Atas saran itu maka pada tanggal 21 Mei tahun 1973 dibentuklah organisasi kedua yaitu “Pinasungkulan ne Kawanua”. Ketua Umum pertama dari kedua organisasi itu adalah saudara Jan Walandouw kemudian diganti oleh Laksamana Frick Sumanti dan Sekretaris Jenderal Hans E. Kawulusan. Selama 16 tahun Sekretaris Jenderal tetap dijabat oleh Hans E. Kawulusan karena pada saat itu tidak ada yang mau menjabat tugas yang cukup berisiko (masa Opsus di saat itu sangat ditakuti).

Pada periode kepemimpinan yang dikomandani oleh MajJen Piet Ngantung tahun 1985 Pinasungkulan ne Kawanua dirubah menjadi Kerukunan Keluarga Kawanua.

Bagikan